Di sebuah sudut kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, terdapat sebuah kedai ayam goreng sederhana yang kini telah menjadi legenda kuliner lokal - Wawan Ayam Goreng. Pendirinya, Wawan Kurniawan, memulai perjalanan bisnisnya dengan modal minim namun tekad yang kuat.
"Awalnya saya hanya memiliki satu panci besar dan beberapa resep turun-temurun dari keluarga," kenang Wawan Kurniawan saat ditemui di kedainya yang kini ramai pengunjung. "Saya berjualan di depan rumah dengan tenda sederhana, namun rasa ayam goreng saya berbeda dari yang lain."
Rahasia kelezatan ayam goreng buatan Wawan terletak pada bumbu rempah alami yang ia racik sendiri. "Saya tidak menggunakan bumbu instan. Semua bumbu saya buat dari rempah-rempah segar yang saya beli dari pasar tradisional setiap pagi," jelas Wawan dengan bangga.
Ayam yang digunakan pun dipilih dengan teliti, hanya ayam kampung segar yang masuk ke dapur Wawan Ayam Goreng. "Ayam kampung memberikan tekstur daging yang lebih kenyal dan gurih dibandingkan ayam potong biasa," tambah Wawan.
Perjalanan menuju kesuksesan tidak pernah mudah. Wawan mengakui bahwa ia menghadapi banyak tantangan, terutama pada tahun-tahun awal bisnisnya. "Seringkali saya hampir menyerah ketika omzet turun drastis atau ketika biaya operasional naik," ujarnya mengenang masa sulit.
Tantangan terbesar datang pada tahun 2015 ketika pasar kuliner di Banjarbaru mulai dipenuhi waralaba fried chicken dari luar negeri. "Banyak pelanggan beralih ke fast food karena image modern mereka. Saya sempat kehilangan hampir 60% pelanggan reguler saya," kenang Wawan.
Tidak menyerah, Wawan mulai merumuskan strategi baru. Ia menyadari bahwa keunggulan utamanya bukan pada modernitas outlet, melainkan pada rasa otentik dan warisan budaya lokal.
"Saya mulai menonjolkan sisi tradisional dari ayam goreng saya. Saya menggunakan piring melamin lokal, menyajikan sambal terasi khas Banjar, dan mengemas nasi dengan daun pisang," ceritanya. Strategi ini berhasil menarik kembali pelanggan yang mencari pengalaman kuliner otentik.
Selain mempertahankan menu klasik, Wawan juga berinovasi dengan menu baru yang tetap mempertahankan ciri khasnya. "Saya memperkenalkan ayam goreng dengan rempah khas Kalimantan seperti andaliman dan kemang," jelasnya.
Menu tambahan lain termasuk olahan ayam dengan santan kental yang disebut "Ayam Lado Mudo" serta variasi sambal tradisional Kalimantan. Inovasi-inovasi ini membantu Wawan Ayam Goreng tetap relevan di tengah persaingan ketat.
Kesuksesan Wawan tidak hanya bergantung pada kemampuannya di dapur, tetapi juga pada tim yang ia bangun. "Saya merekrut pemuda-pemuda lokal dan memberikan pelatihan intensif. Banyak dari mereka yang awalnya tidak memiliki keterampilan di bidang kuliner," ujar Wawan bangga.
Salah satu karyawan setia, Budi Santoso, telah bekerja dengan Wawan selama lebih dari tujuh tahun. "Pak Wawan tidak hanya menjadi atasan bagi kami, tetapi juga mentor. Ia mengajarkan kami bahwa integritas dan kerja keras adalah kunci kesuksesan," cerita Budi.
Dari satu kedai sederhana, kini Wawan Ayam Goreng telah membuka empat cabang di Banjarbaru dan satu cabang di Banjarmasin. Namun, Wawan menegaskan bahwa ia tidak berniat menjadikan bisnisnya sebagai waralaba besar.
"Saya ingin fokus pada kualitas daripada kuantitas. Setiap cabang masih saya perhatikan langsung. Saya tidak mau ekspansi mengorbankan kualitas yang telah saya bangun selama bertahun-tahun," tegasnya.
Kesuksesan Wawan tidak hanya dirasakan dirinya sendiri, tetapi juga memberikan dampak positif pada masyarakat sekitar. "Saya selalu menggunakan produk lokal, dari ayam kampung dari petani desa sekitar hingga sayuran dan bumbu dari pasar tradisional," jelasnya.
Selain itu, Wawan juga aktif memberdayakan masyarakat melalui program pelatihan keterampilan kuliner. "Saya senang berbagi ilmu dengan para ibu-ibu PKK dan pemuda yang ingin mencoba peruntungan di bisnis kuliner," tambahnya.
Upaya keras Wawan tidak luput dari perhatian. Pada tahun 2019, ia menerima penghargaan "Wirausaha Kuliner Terbaik Kalimantan Selatan" dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Daerah. Penghargaan ini menjadi bukti nyata dari dedikasinya dalam memajukan kuliner lokal.
Meskipun telah sukses, Wawan tetap memiliki visi besar untuk masa depan. "Saya ingin memperkenalkan wisata kuliner autentik Kalimantan ke tingkat nasional. Wawan Ayam Goreng akan menjadi salah satu ikon kuliner Kalsel yang dikenal di seluruh Indonesia," ujarnya dengan mata berbinar.
"Saya juga ingin mendirikan sebuah sekolah kuliner gratis untuk pemuda-pemudi kurang mampu di Banjarbaru. Ini adalah cara saya berterima kasih kepada masyarakat yang telah mendukung saya selama ini," tambahnya.
Kisah Wawan Kurniawan dan Wawan Ayam Goreng adalah bukti nyata bahwa dengan kerja keras, inovasi, dan integritas, bisnis kecil dapat berkembang menjadi kebanggaan daerah. Semangatnya mempertahankan kekhasan lokal di tengah arus modernisasi menjadi inspirasi bagi banyak pengusaha muda di Kalimantan Selatan dan Indonesia pada umumnya.