Lahirnya Coffee Tiam
Perjalanan Coffee Tiam tidak lepas dari liku-liku yang melatih ketangguhan Rizky Hidayat. Didirikan di tengah pesatnya perkembangan industri franchise kopi modern, Coffee Tiam memilih jalan yang berbeda: mempertahankan karakter lokal dengan sentuhan hunian yang nyaman. Nama "Tiam" itu sendiri diambil dari dialek Hakka yang berarti "toko", sebuah penghargaan semangat kewirausahaan Tionghoa-Indonesia yang telah lama menyatu dengan budaya Banjarbaru.
Pada tahun-tahun awal, tantangan terbesar yang dihadapi Rizky adalah membangun kepercayaan pelanggan. Di saat banyak kafe mengandalkan gula sirup instan, Rizky bersikeras untuk menggunakan biji kopi pilihan yang disangrai dengan profil roasting khas. Ia percaya bahwa kopi yang baik tidak boleh menutupi rasa aslinya dengan manisnya gula, melainkan harus menonjolkan keunikan karakter tanah tempat biji itu tumbuh.
Usaha kerja keras tersebut mulai membuahkan hasil. Coffee Tiam perlahan namun pasti menjadi perbincangan. Anak-anak muda mulai berdatangan tidak hanya untuk mencari WiFi gratis, tetapi untuk benar-benar menikmati kopi. Para pekerja kantoran menjadikannya tempat refrensi, dan komunitas kreatif menggunakan Coffee Tiam sebagai ruang kolaborasi. Rizky berhasil menciptakan ekosistem di mana Coffee Tiam berfungsi sebagai "Third Place"—ruang ketiga setelah rumah dan kantor yang vital bagi kehidupan sosial urban Banjarbaru.
Kesuksesan Rizky Hidayat tidak diukur semata-mata dari angka penjualan, melainkan dari dampak sosial yang diciptakannya. Ia aktif membina petani kopi lokal di sekitar Kalimantan Selatan, memastikan pasokan bahan baku berkelanjutan dan memberikan harga yang adil. Dengan demikian, setiap tegukan kopi di Coffee Tiam ikut serta dalam meningkatkan ekonomi petani lokal.
Hingga kini, Coffee Tiam berdiri kokoh sebagai bukti nyata bahwa visi yang dikelola dengan konsistensi dan kecintaan terhadap budaya lokal akan melahirkan kesuksesan yang abadi. Rizky Hidayat telah berhasil menanamkan "tanda tangan" khas Banjarbaru dalam peta kopi Indonesia, menginspirasi banyak pengusaha muda lainnya untuk berani bermimpi besar dari kota kecil mereka.