Pramulia Anwari merupakan seorang pengusaha sekaligus pelestari budaya asli Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Lahir dan besar di lingkungan masyarakat Banjar, Pramulia telah mengenal batik sasirangan sejak kecil. Ia terinspirasi dari orangtuanya yang merupakan pengrajin kain sasirangan rumahan di tepian Sungai Martapura.
Dengan modal pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun, Pramulia mulai mengembangkan usahanya secara mandiri pada awal tahun 2000-an. Melihat besarnya potensi pasar dan minimnya pelaku usaha batik sasirangan yang mengedepankan kualitas, Pramulia bertekad untuk membawa kain lokal ini ke pasar nasional dan bahkan mancanegara.
Batik Sasirangan Pramulia didirikan dengan visi untuk memperkenalkan, menjaga, dan memajukan kain sasirangan tradisional. Ada beberapa strategi yang diterapkan oleh Pramulia agar usaha batiknya bisa bersaing di era modern:
Perjalanan Pramulia Anwari tentu tidak mulus begitu saja. Ia menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan alat tradisional, fluktuasi harga bahan baku, hingga minimnya pengetahuan masyarakat tentang nilai filosofis kain sasirangan. Namun, berkat kegigihan dan komitmen, ia mampu mengatasi semua hambatan tersebut.
Salah satu strategi penting yang dilakukan Pramulia adalah aktif mengikuti pelatihan, workshop, serta berkolaborasi dengan desainer nasional. Ia juga secara rutin mengadakan edukasi tentang sasirangan di sekolah-sekolah dari tingkat SD hingga universitas di Kalimantan Selatan.
Usaha keras Pramulia Anwari membuahkan hasil. Batik Sasirangan Pramulia telah meraih berbagai penghargaan baik di tingkat daerah, nasional, hingga internasional. Karyanya pernah dipamerkan di beberapa event fashion bergengsi di Jakarta, Bali, hingga ke Malaysia dan Brunei Darussalam.
Salah satu pencapaian yang membanggakan adalah ketika Batik Sasirangan Pramulia dipercaya menjadi cinderamata resmi untuk tamu-tamu kenegaraan yang mengunjungi Banjarmasin. Keindahan motif dan kualitas kain yang menawan sukses memikat hati para tamu dari mancanegara.
Usaha Batik Sasirangan Pramulia tidak hanya mengangkat nama pribadi Pramulia Anwari, tetapi juga berdampak besar bagi masyarakat sekitar. Ratusan pengrajin di Banjarmasin kini mendapatkan pekerjaan tetap dan penghasilan yang layak berkat program pemberdayaan yang dilakukan Pramulia.
Selain itu, usaha ini juga mendorong generasi muda untuk mencintai budaya lokal. Banyak anak muda yang kini tertarik mempelajari teknik membatik sasirangan dan bercita-cita menjadi pengusaha kreatif seperti Pramulia.
Melihat perkembangan teknologi dan era digital, Pramulia juga aktif mempromosikan Batik Sasirangan melalui media sosial seperti Instagram, Facebook, dan marketplace online. Ia rutin mengunggah foto, video proses pembuatan sasirangan, hingga testimoni pelanggan agar masyarakat semakin mengenal dan percaya pada kualitas produknya.
Berkat digital marketing, kini pesanan tidak hanya berasal dari lokal Banjarmasin, namun meluas hingga ke Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan bahkan mancanegara. Strategi kolaborasi dengan influencer lokal dan nasional juga efektif mendongkrak penjualan.
Pramulia Anwari tidak pernah berhenti bermimpi dan berinovasi. Ia berharap Batik Sasirangan bisa semakin dikenal secara global sebagai identitas budaya Indonesia. Melalui Batik Sasirangan Pramulia, ia ingin menginspirasi pelaku UMKM lain agar tidak malu melestarikan dan mengembangkan produk budaya lokal.
Ke depan, Pramulia berencana membangun pusat edukasi dan museum sasirangan di Banjarmasin, sebagai pusat informasi, pelatihan, dan promosi produk-produk sasirangan yang berkualitas serta berdaya saing internasional.
Kisah sukses Pramulia Anwari dan Batik Sasirangan Pramulia adalah bukti nyata bahwa dengan tekad, inovasi, dan komitmen, produk budaya lokal mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional. Ia membuktikan bahwa warisan budaya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan aset masa depan yang harus dijaga, dikembangkan, dan dibanggakan.
Melalui perjalanannya, Pramulia mengingatkan kita semua akan pentingnya pelestarian budaya lokal serta sinergi antara tradisi dan inovasi modern. Batik Sasirangan, yang dulunya hanya menjadi kain upacara adat, kini telah menyatu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dan menjadi salah satu ikon Kalimantan Selatan yang mendunia.